49 Komentar

Ketika Time is Money Tidak Berlaku

From: Milis of School Life, edit dikit.

Seperti biasa Parno, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Palembang, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Surti, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Parno sambil mencium anaknya.

Biasanya Surti memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Surti menjawab, “Aku nungguin Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, nggak. Pengen tahu aja” ucap Surti singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400ribu. Setiap bulan rata-rata di hitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”

Surti berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Parno beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Surti berlari mengikutinya.

“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400ribu untuk 10jam, berarti Papa digaji Rp. 40ribu dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Parno. Tapi Surti tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya.

“Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5ribu, nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”

“Tapi Papa…”

kesabaran Parno pun habis.

“Papa bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Surti.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Parno nampaknya menyesali hardiknya.

Ia pun menengok Surti di kamar tidurnya. Surti didapati sedang terisak-isak sambil memegang uang Rp. 15ribu di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepada bocah kecil itu, Parno berkata

“Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Surti. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5ribu lebih dari itu pun Papa kasih,” jawab Parno.

“Papa, aku nggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku selama minggu ini.”

“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Parno lembut.

“Aku nungguin Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja.

Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15ribu tapi. Karena papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40ribu maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20ribu. Tapi uang tabunganku kurang Rp. 5ribu, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Surti polos.

Parno pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seorang kau adalah dunianya.

Hikmah yang bisa kita petik dari cerita di atas adalah:

1. janganlah terlena oleh waktu, seperti pepatah timur tengah, waktu adalah pedang yang sewaktu-waktu bisa menebasmu.

2. waktu bukanlah yang segalanya, tapi kebersamaan lah yang menyatukan kita.

3. harta bukanlah segalanya, karena kebahagiaan tidak akan pernah dapat dibeli.

4. dalam hidup ini banyak pilihan yang harus kita buat, pilihlah dengan bijak sehingga tidak ada yang harus disesalkan di kemudian hari.

Ambil hikmahnya ya, jangan lupa share ke kawan-kawannya.

 

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

49 comments on “Ketika Time is Money Tidak Berlaku

  1. Saya pernah dengar cerita ini, dibuat versi radio 2 tahun lalu saat momment umat muslim berbuka puasa. Menginspirasi sekali. seorang bapak yang sibuk mengejar harta, nggak sadar betapa pentingnya sebuah kehangatan keluarga.
    Terima kasih mas atas inspirasinya. :)
    Salam hangat dari Bali.

  2. Luar biasa…
    Saya suka ceritanya, suatu perenungan dan pembelajaran bagi setiap yang membacanya..

    Terimakasih untuk cerita bermanfaat ini

  3. papa terlalu sibuk,, hingga surti kesepian ..

    makasih inspirasi nya..

    salam :)

  4. iyabenar ada hal2 yang tidak bisa dibeli dengan uang..
    salam..

  5. cerita ini sangat menginspirasi mas,, cocok lho ikutan kontes Cerita Mini Berhikmah di blog pakdhe cholik,… cepet daftarin mas… :)

    sukses.. :)

  6. Subhanallah..
    Kebahagian yang benar – benar bermakna dari ungkapan polos seorang anak. :)

  7. pernah baca di salah satu situs, tapi lupa dimana. cerita yang sangat inspiratif

  8. hehehe, saya dapet dari majalah kawan, majalah lama.
    dipikir kok bagus banget kalo di post in, makannya kemaren tu nampil ini. :-)

  9. Ane terharu bacanya :mewek
    ane share ya gan?

  10. saya benar2 terharu dibuatnya
    Moga kelak saya bisa memberikan waktu yg cukup buat anak saya

  11. Salut banget sama tlisan ini. Memang aku juga berasumsi, trus2an bekerja hingga diperbudak harta tidaklah tepat. Mendapatkan kepuasan batin lah yg paling tepat..

  12. selamat siang kk :)
    emang waktu tidak selalu hubungannnya dengan money. :)
    tapi juga ibadah kepada sang pencipta dan kebersamaan sama keluarga :)

    kalo berminat kita tukeran link yuk.
    ditunggu kabar baiknya ya :)

  13. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  14. sering denger cerita ini pik,
    *seenaknya ajah manggil nama orang yak?!?!*
    dan berapa kali membaca nya pun, tetep terharu
    sukses buat kontes nyaaa yaaaaaaa :)

  15. sksd gapapa kok hehehe….

    maksih semangatnya yang membuat ku berapi2 (lebay dikit boleh) :-P

  16. Ketika uang tak dapat membeli segalanya… termasuk kebahagiaan dan masa kecil yg terlewat begitu saja

  17. Ikutan kontes ya..? semoga menang.

  18. tetap semangat ….
    sy udah pernah dengar juga saat pelatihan ESQ
    saat baca juga ingat masa-masa termotivasi dulu, kini semakin termotivasi
    semoga sukses bro

  19. perhatian, kasih sayang, & empati orang tua lebih diperlukan anak dari pada hanya materi.
    semoga si kecil dapat ganti balasan yang lebih …
    salam kenal bro

  20. Sebisa mungkin orang tua menyediakan waktu untuk putra putrinya, agar terhindar dari pembentukan karakter yang buruk dan pergaulan yang tidak baik, berkomunikasi adalah hal terbaik yang harus dilakukan dalam keluarga, karena uang bukan segalanya. Atas stempel komandan blogcamp, JURI datang menilai. Terima kasih atas cerita penuh hikmah. Salam hangat

  21. Cerita yang menarik, dan semoga menang.

  22. [...] melihat rumah sahabat. dengan tulisan ini dan gara-gara menulis maka posting ini terpublikasi, tidak selamanya waktu adalah uang, betul tidak ya? dan ternyata betul. Demi sang anak dalam cerita tersebut uang tidak ada artinya. [...]

  23. masya alloh saya terharu membaca postingan ini..anak yang lugu..spechless sy karena sy seorang calon ayah..
    salam sukses y

  24. salam kenal…bagus sekali ceritanya…..smoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita ini….

  25. Salam Takzim
    Saya dapat mengambil hikmah dari cermin cerita kang taufik
    Semoga cermin ini menjadi suri yang baik, makasih ya kang
    Salam Takzim Batavusqu

  26. Iya saya udah beberapa kali baca cerita hikmah inpirasi ini, dan selalu merinding baca nya,,

    makasih :D

  27. manteeebbbbbbbb….gan…..
    lam kenal…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.